bintangpena.com-Ponorogo- Selain tiwul, gatot, serta gaplek ternyata singkong juga bisa diolah menjadi salah satu jenis pangan kreatif yakni gethuk. Berbeda dengan tiwul yang harus diproses secara bertahap, Gethuk hanya melalui dua langkah. Yakni dibersihkan, kukus dan ditumbuk halus.

“Lalu disajikan bersama parutan kelapa dan juruh aren,” kata Titik Harweni, generasi ketiga pembuat Gethuk Golan Kecamatan Sukorejo, Jumat (17/4).

VARIATIF : Gethuk Golan saat ini disajikan dengan beragam makanan olahan lain seperti cendol, ketan serta gatot.

Diberi nama Gethuk Golan karena di desa tersebut dulunya banyak terdapat pembuat gethuk. Belasan bahkan puluhan pembuat gethuk, yang setiap hari menjajakan dagangan mereka ke sebagian besar daerah di Ponorogo.

Dulu, kata Titik gethuk tersebut hanya dibuat dengan satu menu saja. Singkong pilihan, dikukus menggunakan tungku kayu bakar dan ditumbuk memakai lesung, sehingga bisa memberikan tekstur lembut.

Biasanya sang nenek dan teman-temanya memilih berjualan keliling, atau pergi ke pasar untuk menjajakan dagangan mereka.

MANIS GURIH : Umi Sholikah saat berkunjung ke salah satu rumah produksi gethuk di Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo.

Kala itu, gethuk menjadi salah satu makanan istimewa bagi masyarakat kelas bawah. Mengingat dimasa dulu olahan jajanan tidak banyak seperti sekarang.

Meski bahan makanan berbahan baku singkong sangat mudah dicari, tetapi masyarakat masih banyak yang memanfaatkan untuk bahan pangan lain yang lebih primer seperti tiwul ataupun nasi sawut.

Seiring perkembangan zaman, saat ini gethuk menjadi makanan khas yang bisa dijadikan buah tangan. Bahkan, ditangan Titik dan para pembuat gethuk lain di Desa Golan, kuliner tersebut disajikan dengan variasi yang lebih menarik. Ada menu pelengkap seperti cenil, klepon, gatot dan lainnya.

Karena dibuat murni tanpa pengawet, lanjut Titik gethuk ini umumnya hanya bertahan sekitar 12 jam. Saat ini, gethuk seringkali dijadikan sebagai simbol kesederhanaan makanan tradisional Jawa yang masih bertahan ditengah gempuran jajanan modern.

“Kalau sekarang tinggal delapan orang. Mereka tersebar di Desa Golan ini, dan rata-rata punya pelanggan masing-masing,” imbuhnya. (daz)

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page