bintangpena.com – Ponorogo – Seni budaya khususnya tari tradisional wajib dilestarikan. Hal itu pula yang menjadi landasan dilaksanakannya Workshop Pertunjukan Tari Tradisional Ponorogo di aula pertemuan Joglo Ampirono Bintang Pena, Desa Panjeng Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo, Rabu (10/6). Belasan peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang diselenggarakan selama lima hari berturut itu. Yakni pada 10 hingga 14 Juni 2026. Sebanyak empat mentor akan terlibat selama proses kegiatan. Mulai dari akademisi, praktisi, hingga pengelola sanggar seni tari. AKTIF : Safitri saat menyampaikan materi terkait teknik dasar menari kepada belasan peserta workshop tari tradisional di Joglo Ampirono Bintang Pena, Rabu (10/6). “Kegiatan ini merupakan rangkaian dari empat workshop yang kami laksanakan. Kesemuanya didukung oleh Program Dana Indonesiana 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” ungkap Umi Sholikah, penerima manfaat dengan ID 38670. Untuk hari pertama, workshop diisi oleh Safitri, akademisi sekaligus praktisi tari klasik di Ponorogo. Dalam kesempatan itu, Safitri mengajarkan teknik dasar menari untuk tingkat pemula. Menurutnya seorang penari tradisional harus memiliki tiga pilar utama tari Jawa (Tri Purwa). “Setiap penari harus mampu menyelaraskan tiga elemen tubuh untuk menciptakan harmoni. Yakni ada pasinggihan/nyurung untuk bagian tubuh. Kemudian ada Lampah untuk kaki, serta Lampah Asta dan Wiled yaitu tangan dan ekspresi,” ungkap Safitri. ANTUSIAS : Peserta aktif mengikuti setiap gerakan mentor. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menambahkan seorang penari juga harus mampu menguasai karakter tari yang akan dimainkan. Mulai dari karakter putri atau feminin, karakter putra alus serta karakter putra gagah. Semuanya memiliki ciri dan teknik berbeda. Tidak hanya itu, Safitri juga mengajarkan tentang tiga posisi jemari utama yang menjadi dasar dihampir semua tarian Jawa. Seperti Ngrayung atau sikap sempurna untuk posisi telapak tangan bagi seorang penari. Kemudian ada Nyempurit atau dinamika gelang sebagai proses transisi jemari tangan. Dan terakhir Ngapas atau kekuatan dan karakter. “Banyak sekali sebenarnya gerakan tari tradisional itu. Karena ini memang untuk teknik dasar, maka yang penting-penting saja yang dipelajari. Dan yang perlu diingat di Ponorogo itu ada Tari Jathil dan juga Bujang Ganong. Nanti penerapannya jelas berbeda dengan tari klasik. Jadi memang harus disesuaikan. Dan yang terpenting harus menguasai teknik dasar dulu,” imbuhnya. Kepada para peserta, Safitri juga berpesan agar mereka tetap memegang teknik dasar tari tersebut, saat tampil dengan beragam jenis tarian nantinya. (daz) Post navigation Ratusan Pelajar SMP sederajat Unjuk Prestasi dalam FRI XIII SMAN 1 Ponorogo 2026 Menuju Pasar Ponoragan, Gelar Workshop Kuliner Tradisional Ponorogo