bintangpena.com-Ponorogo- Rasa khas gurih pedas yang berasal dari kombinasi santan dan rempah jahe, menjadi ciri khusus wedang cemoe. Minuman ini populer dan banyak dijumpai di Jawa Timur khususnya di daerah Karesidenan Madiun atau mataraman. GURIH MANIS : Sajian wedang Cemoe paling pas dinikmati saat musim penghujan. Keunikan rasa yang tersaji dari wedang cemoe adalah gurih manis dan sedikit pedas. Itu berbeda dengan minuman lain berbahan jahe, seperti ronde atau sekoteng yang hanya menampilkan kuah bening. “Resepnya saya peroleh dari penjual sebelumnya. Karena beliau tidak ada yang meneruskan, jadi saya yang melanjutkan resepnya,” kata Yudha Kusuma, penjual cemoe di Jalan Dr. Soetomo, Ponorogo Jumat (17/4). GENERASI KETIGA : Istri Yudha Kusuma saat meracik Wedang Cemoe di warungnya Jalan Dr. Soetomo Ponorogo. Setiap hari, Yudha biasanya memasak cemoe dalam satu wadah berukuran besar. Air santan kelapa direbus bersama dengan jahe yang sebelumnya sudah dihaluskan. Kemudian air santan tersebut diberi gula pasir, pandan, serta bumbu seperti serai atau kayu manis. Saat disajikan, dalam satu mangkuk terdapat potongan roti tawar, kacang tanah sangrai, dan kolang-kaling atau terkadang mutiara. Selanjutnya baru disiram dengan wedang cemoe. “Untuk menjaga wedang tetap hangat, biasanya wadah kami panasi dengan api kecil. Cemoe sangat cocok dinikmati saat cuaca dingin atau hujan,” tutupnya. (daz) Post navigation Nasi Pecel Pojok, Kuliner Segala Masa Gethuk Golan Sukorejo, Simbol Kuliner Sederhana Jawa