bintangpena.com-Ponorogo- Pecinta dessert atau makanan penutup khas Indonesia, seperti aneka bubur manis bisa mengernyitkan dahi saat melihat fenomena unik di Ponorogo.

Di Jawa Timur, khususnya Ponorogo aneka bubur manis atau jenang justru menjadi alternatif pilihan menu sarapan pagi. Tidak heran jika banyak penjual bubur manis, justru menjajakan dagangan mereka saat pagi hari.

“Ramenya memang saat pagi. Biasanya semuanya habis saat jam 11 siang,” kata Leni Ariana, penjual bubur manis di kawasan Jalan Raya Ngrupit, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo pada Jumat (17/4).

LARIS MANIS : Imam Mustofa saat melayani pembeli di kawasan Jalan Raya Ngrupit, Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo, Jumat (17/4).

Setiap pagi, Leni menjual sedikitnya lima macam bubur manis. Ada sumsum, biji salak, ketan hitam, delima maupun bubur kampiun atau campuran aneka bubur tersebut.

Dengan memberikan tiga pilihan harga, mulai dari Rp. 4 ribu sampai Rp. 6 ribu per cup dagangan Leni tersebut bisa terjual habis.

Untuk bubur sumsum, Leni membuatnya dengan bahan dasar tepung beras halus. Saat penyajian, ia menambahkan kuah gula merah dengan tekstur kental dan manis.

Kemudian untuk bubur biji salak, dibuat dari bola-bola ubi jalar yang sudah dilembutkan dan dicampur dengan gula merah santan.

“Kalau di Ponorogo bubur manis ini, biasanya disebut dengan jenang. Jadi ada jenang sumsum, jenang biji salak atau grendul dan lainnya,” tuturnya.

Karena banyak menggunakan air saat proses memasak, bubur-bubur tersebut tak bisa bertahan lama. Harus segera dikonsumsi. (daz)

 

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page