bintangpena.com-Ponorogo- Dengan cita rasa manis gurih dan sedikit asam, dawet jabung menjadi minuman khas paling dicari. Dawet jabung lahir dan berkembang di Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo.

Dawet jabung memiliki rasa khas manis gurih yang berasal dari santan kelapa dikombinasi dengan gula aren. Selain manis, gula aren juga memunculkan rasa sedikit asam yang menambah cita rasa khas.

LEGIT : Yuna saat meracik bahan Dawet Jabung, Kamis (16/4)

“Seiring waktu ada yang mulai berjualan. Saat itu banyak pekerja pabrik maupun buruh tani disini, yang membeli dawet jabung saat jam istirahat atau pulang kerja,” tutur Yuna, penjual dawet jabung generasi ketiga di salah satu warung dawet perempatan Desa Jabung, Kamis (16/4).

Dawet Jabung, awalnya merupakan hidangan yang biasa disajikan untuk keluarga sehari-hari. Selain itu biasanya juga disuguhkan saat ada hajatan, syukuran maupun temu tradisi desa.

Resepnya diwariskan secara lisan dari orang tua ke anak, tanpa takaran baku. Kuncinya ada di rasa dan pengalaman dari si pembuat. Bahan-bahannya juga memanfaatkan hasil alam sekitar Desa Jabung.

KHAS : Dawet Jabung menjadi kuliner jujugan penikmat dawet.

Seiring waktu, Desa Jabung dikenal sebagai sentra penjual dawet. Para penjualnya mulai keliling ke desa-desa sekitar, bahkan ke wilayah lain di Ponorogo. Mereka tetap membawa nama “Jabung” sebagai penanda asal dan jaminan kualitas rasa.

Puncaknya, Dawet Jabung makin populer saat bulan Ramadan. Banyak penjual muncul di berbagai titik dan dawet ini jadi menu favorit berbuka puasa. Dari sini Dawet Jabung mengakar kuat sebagai identitas kuliner khas Ponorogo. Hingga kemudian berkembang menjadi komoditas dan identitas daerah.

Berbeda dengan dawet pada umumnya, dawet Jabung memiliki ciri khas. Dawet Jabung memiliki isian lengkap seperti cendol dari pati garut, ketan merah, gempol, bubur sum-sum, kelapa muda, siraman gula jawa, dan sirup manis.

“Cendolnya khas, warnanya lebih gelap, teksturnya kenyal dan nggak mudah hancur.
Dawet ini identik dengan acara adat serta tetap lekat dengan tradisi warga,” katanya.

“Sampai saat ini pengunjung tidak hanya dari Ponorogo, tetapi banyak dari luar kota,” imbuhnya. (daz)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page