bintangpena.com-Ponorogo- Ditengah gencarnya program ketahanan pangan nasional yang digalakkan pemerintah, Andita Devi Atmawati,37 perempuan warga Desa Ngampel, Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo sudah terlebih dahulu menggeluti bidang tersebut.

Dengan menampung hasil panen warga, Andita menciptakan olahan pangan berbahan baku singkong, jagung serta garut. Bahan itu diolah menjadi tiwul, gatot, gaplek, nasi jagung hingga tepung garut.

“Dulu tiwul hanya dikonsumsi untuk keluarga, sekarang saya mulai membuat dan menjualnya. Alhamdulillah permintaannya bagus,” kata Andita ssat ditemui di rumahny, Kamis (16/4).

INOVATIF : Makanan olahan tiwul yang di kemas secara instan memudahkan konsumen saat hendak mengkonsumsi.

Untuk menjadi makanan siap saji, seperti yang saat ini beredar di pasaran Andita membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua minggu untuk proses pembuatan. Mulai dari membersihkan kulit, menjemur, merendam, menggiling menjadi tepung, mengolahnya menjadi bahan matang lalu menjemurnya kembali.

Andita memastikan jika produknya tersebut sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. Meski begitu ia memastikan jika produknya itu bisa dikonsumsi hingga berbulan-bulan. Untuk sekali produksi, biasanya mencapai dua kuintal.

“Proses pengeringannya wajib dijemur dibawah terik matahari. Jika tidak bahan bisa rusak. Itu sudah saya buktikan dengan menggunakan oven. Ternyata untuk waktu tertentu terdapat jamur,” katanya.

Selain dikonsumsi pribadi, saat ini makanan tradisional tersebut sudah menjadi komoditas pasar. Selain menyuplai toko oleh-oleh di sekitar Ponorogo, produk Andita juga merambah konsumen luar negeri. Biasanya, makanan olahan itu menjadi buah tangan bagi para Buruh Migran Indonesia (BMI) maupun diaspora yang tinggal diberbagai negara.

“Sejak dulu usaha ini sudah ditekuni keluarga kami. Dan ini saya mencoba pasar baru,” ujarnya.

Dengan kemasan yang lebih praktis, higienis dan instans produk olahan tersebut memang bisa menjadi pilihan menarik untuk oleh-oleh.

“Semua bahan saya ambil dari kampung saya di Kecamatan Sooko. Disana singkong maupun jagung dan umbi-umbiannya tumbuh dengan baik. Jadi rasa dan kualitasnya lebih terjamin,” tegasnya. (daz)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page