bintangpena.com-Ponorogo- Ponorogo tidak hanya terkenal dengan budaya tradisional, melainkan juga makanannya. Sate ayam menjadi satu diantara sekian pilihan kuliner yang menjadi jujugan wisatawan.

Sate Ponorogo memiliki ciri berbeda dibanding dengan sate di daerah lain. Irisan daging yang tipis dan sedikit lebar, menjadi ciri menarik. Ternyata model irisan itu memiliki tujuan. Yakni agar bumbunya lebih mudah meresap dan lebih cepat matang sempurna saat dibakar.

“Ada juga yang memilih bentuk irisan lebih besar. Berati membakarnya harus sedikit lebih lama,” ungkap Catur Rudi Laksono, penjual Sate Pak Gareng di komplek Pasar Ngepos, Ponorogo Sabtu (18/4).

LEZAT : Sate ayam Pak Gareng, Ngepos, Ponorogo menjadi salah satu pilihan kuliner yang khas.

Untuk mencapai tingkat kematangan sempurna, Catur mengaku butuh waktu sekitar 15 menit untuk proses pembakaran. Agar bumbu meresap, Catur biasanya mencelupkan sate-sate tersebut sebanyak empat sampai lima kali.

Sate Pak Gareng, sudah berproduksi sejak 1970an. Awalnya sate tersebut dijual keliling dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan gerobak pikul. Seiring waktu Pak Gareng, yang tak lain adalah ayah Catur memilih berjualan menetap di kawasan Pasar Ngepos.

“Awalnya diteruskan kakak. Sekarang ganti saya,” katanya.

Tidak hanya model irisan, sate Ponorogo disajikan dengan menggunakan bumbu kacang yang khas. Berbeda dengan nasi pecel, cita rasa bumbu kacang atau sambal sate Ponorogo cenderung manis gurih sehingga bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tidak hanya warga lokal, sate Ponorogo juga banyak dicari wisatawan. Selain untuk makan ditempat, seringkali sate juga menjadi buah tangan.

“Seringkali ada pelanggan yang minta dikirim melalui jasa paket. Ada yang dari Surabaya, Malang dan kota lainnya,” katanya. (daz)

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page